Kisah Perjalanan Bertemu Abah Anom

KU DIGIRING
WALIY MURSYID YANG AGUNG PANGERSA ABAH ANOM qs.
————————————————————————–

Alhamdulillaahi robbil ‘aalaamiin rasa syukur yang tak terkira ini kami haturkan ke hadlrotu Alloh, yang dengan qudroh dan irodah Nya telah memperjalankan diri ini secara rapi dan teratur untuk mengambil yang kemudian berenang dalam “faidl nuur” kalimat laailaaha illalloh dari seorang Waliy Mursyid yang Agung (Qutubul ‘Auliyaa’ fi hadzaz zaman) Sayyidiy As-Syeikh Ahmad Shohibul Wafa’ Tajul ‘Arifin qs. melalui rengkuhan suci salah satu saluran cahaya untuk menuju sumber cahaya Pangersa Abah Anom.

Seorang bayi terlahir di dunia di kabupaten Demak, dan sekarang tinggal di Kota Kudus, dan itulah aku (penulis). Kegemaranku dalam ilmu kerohanian (pada waktu itu yang aku fahami hanya sebatas pada ilmu kadigdayaan, kanuragan, keghoiban, laduniyah dan sejenisnya) kumulai sejak aku kelas satu MTs setelah khitan. Maka ketika aku mendengar nama Syeikh Abdul Qodir Al-Jailany, Wali Songo dan Waly-Waly lainya, maka yang terlintas dalam benak hatiku adalah kekaromahan yang dimiliki mereka; mereka bisa terbang, berjalan di atas angin, membelah jadi seribu dalam satu waktu, jika ada yang menyakiti dirinya, orang itu akan hancur dan kena malapetaka, kaya raya tanpa bekerja dan lain sebagainya tanpa aku ketahui terlebih dahulu akan jalan (Thoriqoh) yang telah mereka tempuh dan yang mereka ajarkan. Akhirnya muncul cita-citaku agar kelak bisa menjadi seperti mereka (Waliy Alloh yang punya karomah) dan ingin supaya berkaromah seperti mereka, disamping cita-cita menjadi muballig yang terkenal di seluruh dunia.

Aku melanjutkan perjalanan pendidikan formalku di MA Demak dan disamping sekolah kudatangi para kyai yang tersohor dan paranormal yang punya ilmu hikmah dan kanuragan hanya karena ingin memperoleh kadigdayaan. Meskipun orang tuaku sering memarahiku dan melarangku waktu aku menjalankan ritual puasa (puasa tirakat untuk memperoleh kesaktian dan kadigdayaan) seperti advisnya tersebut. Beliau juga sering mengatakan “ntar kamu suatu saat pasti kan ketemu Mursyid sendiri”. Selesai Aliyah, kulanjutkan jenjang sekolahku ke STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) Salatiga demi memenuhi permintaan orang tua yang ingin agar kelak aku menjadi seorang guru, sebab sebenar cita-citaku adalah ingin masuk di Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang lantaran ingin menjadi seorang muballigh.

Aku masuk di Perguruan Tinggi sekitar tahun 2002 bulan Agustus dan sempat tinggal di ponpes “Salafiyah” Grogol, Blotongan, Salatiga selama dua tahun. Dan tepatnya tahun 2003 bulan maret, temanku yang bernama Ahmad ‘Atho’illah (murid Suryalaya yang ikut perwakilan Suryabuana) bercerita kepadaku bahwa di dusun Balak, Pakis, Magelang ada seorang Guru Rohaniyah, Beliau adalah salah satu murid Pangersa Abah Anom yang masih sangat muda dan sering berpakaian seperti abdi dalem keraton (karena saking sederhananya).

Waktu itu di Balak ada acara Tadzkiroh Tasyakuran (Pertama) Masuknya Agama Islam Di Jawa di gunung Balak. Tapi malam sebelum Tasyakuran tepatnya hari sabtu wage, 13 Maret 2004, kami berempat (Saya, Ahmad Rifa’i, Abdurrohim Dan Ahmad ‘Atho’illah) bersama-sama sowan Beliau untuk yang pertama kalinya. Dalam bathinku aku berdo’a mudah-mudahan beliau memberi Ijazah doa-doa (karena belum mengetahui dan mengerti apa visi, misi dan tugas Beliau) kepadaku. Kami sampai di rumah beliau tepat jam dua belas malam, dan ketika larut malam kami di suruh istirahat di kamar nomor tiga sebelah utara pendopo. Dalam tidurku aku bermimpi, kalau aku sedang menginjak tengkuk Beliau (wallohu a’lam. Semoga aku terhindar dari watak, sifat, sikap dan fikiran yang mengada-ada). Tetapi setelah itu tidak pernah ke Suryabuana karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan.

Ketika tidak pergi kesana (Suryabuana) kulanjutkan perjalanan ‘ruhaniyah’ku ke berbagai kyai seperti di Kudus, Jepara, Pati dan desa-desa terpencil lainya. Setelah mendapat dan mempelajari ilmu (kanuragan dan sejenisnya) yang aku kejar-kejar tersebut, dalam suatu keheningan dalam hatiku terdengar kata-kata:”kamu pelajari ilmu-ilmu ini, kalau sudah bisa akan kau gunakan untuk apa? Begitu juga ilmu-ilmu lainya, kalu sudah bisa untuk apa?”.

Suara hati itu aku anggap angin lalu saja. Sampai dalam tidurku aku mendengar suara yang pernah aku mimpikan sewaktu aku di Madrasah Aliyah dengan sangat jelas sekali “innaniy anaallooh, laa ilaaha illaa anaa, faa’budniy”. Kalimat ini juga terulang kembali setelah aku masuk Thoriqoh Qodiriyyah Wan Naqsyabandiyyah. (wallohu a’lam. Semoga aku terhindar dari watak, sifat, sikap dan fikiran yang mengada-ada).

Tahun 2004 bulan Agustus aku keluar dari ponpes “Salafiyah” di Blotongan, Salatiga demi ikut tinggal bersama temanku yang bernama Ahmad ‘Atho’illah dan Ade Wibowo di Masjid “al-Malaa” Tegalrejo Salatiga. Kebetulan di masjid itu ada dzikiran ala Suryabuana (Thoriqoh Qodiriyyah Wan Naqsyabandiyyah) yang di pimpin oleh bapak Mohammad Syafe’i. Walaupun aku tidak ikut dzikiran (hanya sebatas mendengarkan dari kamar, karena berdekatan dengan masjid) aku merasa ada kekuatan yang dahsyat dibanding dengan keilmuan (kejadugan, kanuragan, kekebalan, ketabiban dan lainya) yang selama ini aku peroleh. Akhirnya secara diam-diam aku mengambil kitab pedoman Dzikir TQN Uqudul Jumaan yang di taruh di rak Masjid. Aku tulis semua bacaanya untuk aku amalkan karena aku yakin dzikir ini –menurutku- yang paling dahsyat dan ampuh dengan tidak memperdulikan apakah aku nanti akan gila ataukah tidak. Selang waktu yang agak lama akhirnya aku ikut dzikiran TQN setiap hari selasa malam rabu, meskipun belum di talqin. Makin lama aku merasa ni’mat dalam dzikir seperti itu, maka pada awal bulan Ramadhon tahun 2004 aku sering berdo’a agar aku bisa bertemu dengan Beliaunya dan agar bisa ikut talqin dzikir meskipun dengan berbagai macam cara. Ketika akhir Ramadhan ada kabar kalau di Masjid Surya Mustika Rahmat akan diadakan talqin akbar, hatiku seketika berbunga-bunga dan bahagia sekali.

Akhirnya pada hari sabtu tanggal 27 November 2004 sekitar pukul 23.00 WIB tepat aku berumur dua puluh tahun [18 Nopember] aku bisa ikut talqin yang dipimpin oleh wakil talqin Suryalaya Bapak Kyai Zezen Zaenal Arifin Baazul Asyhab, [yang hakikatnya adalah Pangersa Abah Anom sendiri yang mentalqin]. Siangnya sebelum talqin aku dan ‘Atho’illah sekitar pukul 11.00 WIB sowan ke rumah Syeikh, tetapi Syeikh tidak ada di rumah. Ternyata Beliau berada di rumah orang tua beliau dan kamipun di panggil untuk menemui beliau di sana.

Dalam pertemuan kami bertiga, temanku mengutarakan maksudnya (meminta do’a untuk Ibunya yang sedang sakit). Dan disela-sela itu aku juga bertanya tentang ilmu hikmah (kadigdayaan), akhirnya Beliau. bercerita kurang lebih sebagai berikut:

“Saya punya saudara di Surabaya, namanya Ustadz Ali Hanafiyah. Beliau salah satu murid Abah Anom yang dahulunya sangat ampuh menurut dia dan mayoritas orang awam. Dia bisa ‘weruh sakdurunge winarah’, kalau beliau bilang: ‘besok anda akan mati!’ Maka keesokanyapun orang tersebut meninggal. Ada orang sakit datang kepadanya dengan berbagai macam keluhan dari yang ringan sampai yang berat, tapi cukup di kasih air putih langsung sembuh seketika itu. Tetapi ketika sowan ke Suryalaya, kata Abah Anom: ‘Lanjutkan dzikirmu!! Itu masih jauh dari kesempurnaan !!’. Akhirnya beliaupun mengikuti apa yang disarankan Beliau Pangersa Abah Anom”.

Waktu itu aku tertegun dan heran, orang yang diceritakan Beliau begitu tinggi ilmunya dibandingkan aku tapi ternyata tidak ada apa-apa, guna dan faedahnya dihadapan Waliy Mursyid yang telah sampai dan kembali kepada Alloh. Dan yang seharusnya kita ikuti atau ittiba’ (wattabi’ sabiila man anaaba ilayya). Karena menurut Pangersa Abah bahwa orang belum dianggap mencapai kesempurnaan, walaupun dia bisa terbang, menjadi seribu dalam satu waktu, berjalan di atas air dan lain sebagainya, kalu belum berma’rifat kepada Alloh. Lanjut Beliau:

“ketika orang tadi telah menjadi murid Abah Anom, beliau sering sowan ke Suryalaya untuk mengadu berbagai masalah yang telah menimpa beliau kepada Abah Anom tetapi Pangersa Abah hanya menjawab:’teruskan dzikirmu!’. Bahkan beliau dalam berdzikir sampai bisa terbang dan melayang-layang ke udara, lalu mengadu ke Abah, tapi Abah menjawab:’teruskan dzikirmu, itu belum sempurna !!’. sampai pernah juga ketika berdzikir, ketika menengok ke kanan, beliau melihat Rosululloh Saw dan ketika menengok ke kiri, melihat Syeikh Abdul Qodir Al-Jailaniy. Lalu sowan lagi ke tempat Pangersa Abah Anom, tapi lagi-lagi Abah menjawab:’teruskan dzikirmu, karena itu belum sempurna !!’. sampai akhirnya beliau mencapai dan merasakan ladzdaatudz dzikri dalam kurun waktu dua puluh tahun dan hal itu atas pengakuan beliau sendiri”.

Padahal kalau kita bayangkan, rumah beliau ada di Surabaya. Pulang pergi dari Surabaya ke Tasikmalaya dengan membawa berbagai masalah tapi hanya di jawab oleh Pangersa Abah Anom dengan kata dzikir. Dan itu dijalaninya selama dua puluh tahun !!! lanjut cerita Beliau:

“kemudian beliau mendapatkan julukan al-hakiim yang setiap ucapan dan perbuatanya insayaAlloh sesuai dengan al-Qur’an al-Kariim”.

Beliau yang mengetahui tentang keadaanku yang memang menyukai ilmu-ilmu kanuragan maupun kadigdayaan lainya, maka beliau berpesan: “letakkan dulu keilmuan yang telah engkau pelajari kemarin dan amalkanlah dzikir laa ilaaha illaalloh karena dzikir ini ibarat nasi, kalau sudah matang tinggal mencari lauk pauknya. Datanglah kesini ntar malam untuk ikut talqin. Dahulu saya juga yang menyuruh Simbah Kyai Mangli untuk datang dan mengambil talqin ke Pangersa Abah Anom”.

Di sini kita bisa mengetahui bahwa di Surya Buana tidak pernah mengajarkan ilmu-ilmu kadigdayaan, kejadugan atau secara umum lebih dikenal dengan ilmu paranormal. Karena keilmuan keparanormalan tersebut hanya tingkat kekanak-kanakan menurut Waliy Mursyid yang Agung Pangersa Abah Anom (yang hakikatnya juga menurut Alloh). Dalam waktu yang lain Beliau juga bercerita: “dahulu waktu saya kuliyah di jogja, kalau tidak salah semester satu, saya pernah di isin-isin Ibnu ‘Arobiy dalam mimpi. Ibnu ‘Arobiy mengajariku ilmu untuk bisa membelah menjadi seribu dalam satu waktu dan dalam tidurku itu, saya praktekkan dan ternyata bisa membelah menjadi seribu. Ketika jagapun saya praktekkan, ternyata saya juga bisa membelah menjadi banyak dalam satu waktu. Akhirnya –dalam tidurku itu- saya dikatain Ibnu ‘Arobiy: ‘itu hanya ilmunya anak-anak! Tapi kalau ingin yang lebih tinggi (asyrof dan afdhol) lagi, maka itu tidak lain adalah ma’rifatulloh’”. Hal ini menunjukkan bahwa Beliau dan Surya Buananya tidak pernah mengajarkan ilmu paranormal apalagi sebagai pencetak paranormal sebagaimana yang dituduhkan sebagian orang kepada Beliau dan Surya Buana.

Dan ternyata juga Simbah Kyai Mangli yang tersohor keilmuanya –khususnya di desaku- malah menyuruh Beliau untuk mengambil talqin dari Abah dan mengakui merasa tidak mampu dan tidak mampu untuk menjadi guru Beliau ketika Beliau ingin di akui sebagai murid Mbah Mangli. Lanjut fatwa Beliau:

“Jikalau engkau ingin mengetahui siapa Waly Qutub (Sulthoonul ‘Auliyaa’) di abad ini ! maka bacalah surat al-faatihah tiga ratus tiga belas kali di tengah malam dan minta sama Alloh agar diberitahu siapa Waliy Qutub sekarang ! pastilah Pangersa Abah Anom (Syeikh Ahmad Shoohibul Wafaa’ Taajul ‘Aarifiin) yang kan tampak. Abah adalah Waliy Mursyid yang mencapai derajat Insan Kaamil Mukammil. Karena ada waliy yang tidak mursyid dan ada mursyid yang tidak waliy dan ada waliy yang mursyid (wa man yudllil falan tajida lahuu waliyyaan mursyidaan, al-Kahfi: 17)”.

Akhirnyapun aku dengan sekenarioNYA bisa mengambil benih noor suci (faidl noor) kalimat laa ilaaha illalloh pada malam itu di Masjid Surya Mustika Rahmat. Walaupun sebelum ikut talqin dzikir TQN ala Suryalaya, aku juga pernah sowan ke seorang Syeikh yang juga mursyid Thoriqoh Qodiriyyah Wan Naqsyabandiyyah di Boyolali (bukan TQN ala Suryalaya) tetapi yang kurasakan sangat berbeda (bukan berarti aku meremahkan Thoriqoh lainya, tetapi ini yang mungkin dalam istilah tasowwuf disebut jadzbah ilaahiyyah sehingga sampai di Surya Buana, yang darinya aku menemukan TQN Suryalaya).

Yakinlah wahai jama’ah !!! tentang kedudukan Waliy Mursyid kita Pangersa Abah Anom qs. dan Beliau yang insyaAlloh memancarkan CAHAYA NUUR MUHAMMAD yang paling terang di abad ini. Dan yakinlah juga bahwa Beliau selalu memperhatikan dan membimbing keruhanian kita baik waktu jaga maupun waktu tidur. Aku sendiri pernah membuktikanya (semoga aku termasuk golongan dari orang-orang yang terhindar dari sifat ujub). Dan keterangannya tidak mungkin aku tulis disini karena terlalu panjang. Pengalaman mengesankan yang pertama (yang paling terang) setelah ikut talqin dzikir (dengan wakil talqin Pangersa Abah Bapak Kyai Zezen Zaenal Arifin Baazul Asyhab) adalah saat Beliau mengajari dzikir (bukan mentalqin), dan disitu sampai-sampai Beliau berkata: “pejamkan matamu, tutup rapat-rapat mulutmu dan katupkanlah telingamu, jika engkau tidak bisa melihat Alloh maka tertawakanlah kami”. Aku tidak tau apa yang aku rasakan waktu itu, tapi perasaan waktu itu laa tuushofu bi bayaanin.

Hal ini pada hakikatnya adalah Pangersa Abah Anom yang mengajari melalui lisan Beliau (bukan berarti kami menyamakan kedudukan Beliau dengan Pangersa Abah). Sebagaimana yang kita ketahui, jikalau kita sowan ketempat Pangersa Abah, beliau hanya terdiam. Lalu bagaimana kita bisa mengetahui kehendaknya (kehendak yang menjadi visi dan misi Pangersa Abah)???. Maka dengan melalui pintu bimbingan Beliau sajalah jama’ah Surya Buana bisa mengetahuinya. Sebagaimana kita (jama’ah Surya Buana khususnya dan seluruh orang Islam pada umumnya) tidak akan bisa memahami kehendak (hasrat) Alloh secara kaffah (kamil/sempurna) tanpa melalui irsyad dari Rosululloh saw. Begitu juga, kita tidak akan bisa memahami apa yang menjadi hasrat dan yang dikehendaki Waliy Mursyid Pangersa Abah tanpa melalui bimbingan Beliau. Syeikh hanya salah satu pintu untuk memahami dan mengetahui setetes (sebagai awal untuk menuju seribu bahkan semilyar) samudera keilmuan dan hasrat (visi dan misi) Abah Anom. Yang menginginkan agar seluruh muridnya (bahkan ummat sedunia) agar berma’rifat kepada Alloh dengan Alloh, sebagaimana Alloh yang ingin terkenal (kunntu kanzaan makhfiyaan, fa ahbabtu ‘an u’rofa, fa kholaqtu al-kholqo liya’rifuniy). Sebagaimana juga firman Alloh yang menyuruh ta’at kepada Alloh dan rosulNya, bukan berarti Dia membuat hambanNya musyrik (membuat tandingan bagi Alloh) karena ta’at pada Rosul. Begitu juga kita mengagungkan (menjadikan sesepuh di Surya Buana sebagai perwakilan PP. Suryalaya di Magelang dan sekitarnya) Syeikh, bukan berarti kita menjadikan Beliau sebagai tandingan Pangersa Abah. Seperti halnya juga, Alloh meletakkan surgaNya (secara simbolis) di bawah (kekuasaan) orang tua, bukan berarti Dia menyuruh kita agar menyembah orang tua. Tetapi dengan patuh kepada orang tua, kita bisa mendapatkan syurgaNya. Semoga kita bisa memahami keterangan seperti ini. Sehingga kita tidak menuduh Beliau yang bukan-bukan (menuduh sebagai orang yang menjegal ketenaran Abah Anom atau menjadi hijab Abah dan lain sebagainya) dengan prasangka kita, padahal semua itu tidak benar dan menjadikan kita (yang menuduh) berdosa besar (al-fitnatu akbaru minal qotli).

Dari ini, kami tidak mengatakan bahwa Beliau berada segaris lurus membentang (horizontal) dengan Pangersa Abah, tetapi Beliau berada segaris lurus tegak (vertikal) dari Pangersa Abah Anom (yadullohi fauqo aidiihim [vertical] bukan yadullohi aimaanihim[horisontal]). Hal ini harus kita fahami agar tidak terjebak dengan isu-isu yang berdatangan selama ini, dan yang paling penting agar kita terhindar dari su’ul adaab baik kepada Pangersa Abah Anom maupun Beliau. Tetapi agar pengertian ini lebih bisa kita fahami, kita sebaiknya datang saja kepada Beliau atau kepada orang (jama’ah Surya Buana) yang lebih tau untuk meminta kejelasan kalau kita memang benar-benar tidak faham. Kalau kita masih belum bisa menerima keterangan mereka, maka sholat istikhorohlah !! jika kalian memang benar-benar pencari kebenaran sejati bukan gadungan atau sekedar ikut-ikutan.

Syukron bilaa nihaayah aku sampaikan kepada Pangersa Abah Anom dan Beliau atas bimbinganya dan yang selalu aku harap penTARBIYAHanya. Kepada ikhwan khusunya yang dahulunya punya pengalaman sabagai orang yang suka mencari ilmu-ilmu seperti saya (kadigdayaan, kesaktian, kanuragan dan sejenisnya), yakinlah ilmu itu seperti belum bisa menembus alam lahuut, itu baru menembus alam jin atau alam malaakut saja. Padahal dzikir yang diajarkan Waliy Mursyid kita bisa menembus –secara tidak tersadari oleh alam fikiran manusia- bisa menembus alam Malaakuut, Jabaaruut, maupun Laahuut. Dan disitulah (alam antara Nasuut dan Malaakuut) banyak keterjebakan para saalik (orang yang berjalan menuju Alloh) dan akhirnya tidak sampai-sampai perjalananya menuju Alloh. Yaqin dan taatilah GURU kita jangan sampai kita su’ul adab (al-‘abdu bi ‘ibaadaatihi yashilu ilal jannah wa laa yashilu ilaa hadlrotillah illa bi muroo’atil ‘adaab), baik adab untuk diri sendiri, kepada sesama ikhwan dan yang lebih terpenting kepada Waliy Mursyid kita. Semoga kita istiqomah di jalan Alloh dan menjadi nuur yang terpancar dari NUUR MUHAMMAD saw.

Demikian kisah perjalananku hingga sampai di Surya Buana sehingga bisa kukenal ajaran Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah Waliy Mursyid yang Agung Pangersa Abah Anom (Sayyidiy as-Syeikh Ahmad Shohibul Wafaa’ Taajul ‘Aarifiin qs.) melalui bimbingan Beliau . Semoga aku terhindar dari penyakit ujub, riya’ dan su’ul adab pada Guru. Amiin…!!!
————————————————————————————————–

NB:
1. Beliau: Syeikh Pengasuh PP. Suryabuana
2. Sengaja kami merahasiakan namanya, jika ingin mengetahuinya, datang saja ke alamat Pondok Pesantrennya

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s